Archive for Artikel
DESA SIAGA BENTENG UTAMA MENANGGULANGI MASALAH KESEHATAN DI KABUPATEN PURWOREJO
Posted by: | CommentsDemikian pesan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo pada acara sosialisasi Desa Siaga di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo
Latar Belakang Kebijakan
Pembangunan kesehatan di Kabupaten Purworejo perlu terus dipacu keberhasilannya dengan terus mengupayakan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB). Sampai dengan tahun 2006 AKI = 126/1000 kh dan tahun 2005 AKB = 9,12/1000 kh, angka tersebut tergolong relatif tinggi, sementara pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 64,5/100.
Menyikapi kondisi tersebut pemerintah berupaya dengan menempuh kebijakan menempatkan bidan-bidan di desa. Sistem pelayanan kesehatan terus ditingkatkan. Hal ini diwujudkan dengan mendorong terbentuknya PKD (Poliklinik Kesehatan Desa) dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Masalah kesehatan terus berkembang, penyakit baru bermunculan dan perseberannya cenderung menjadi ancaman global seperti SARS, HIV-AIDS, dan Flu Burung. Sedangkan penyakit lainnya yang akut dan berpotensi menjadi Kejadian Luar biasa (KLB) seperti Demam Berdarah, Polio, dan Diare serta Gizi buruk pada balita masih menjadi ancaman.
Sementara itu masalah kesehatan masyarakat seperti TBC, Kusta dan penyakit infeksi lainnya belum sepenuhnya dapat diatasi. Kondisi ini diperberat oleh menurunnya status kesehatan akibat gizi buruk, khususnya pada kelompok rentan. Pada sisi lain, beberapa wilayah tertimpa bencana alam, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tetapi juga menyisakan trauma dan masalah kesehatan.
Menyadari keterbatasan pemerintah baik dari segi upaya maupun sumberdaya, dipandang perlu untuk menumbuhkan sikap kepedulian dan gotong royong masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah melalui Desa Siaga.
Apa dan siapa Desa Siaga itu ?
4 strategi dalam mewujudkan visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan bekualitas, meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayan kesehatan. “ Desa siaga merupakan salah satu sasaran dari tiga sasaran strategi pertama, dimana pada akhir tahun 2008, seluruh desa telah menjadi desa siaga “
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemandirian serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa / PKD / Poskesdes.
PKD (Polkesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaiti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain.
Pusat Revitalisasi UKBM
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, PKD (Poskesdes) memiliki kegiatan antara lain pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko, penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi. Juga dikembangkan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, pelayanan medis dasar sesuai kompetensinya. Untuk kehidupan masyarakat sehari-hari, digerakkan promosi kesehatn untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain lain.
“ Dengan demikian PKD (Poskesdes) diharapkan berperan sebagai Pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi”.
Apa Fungsi dan Tujuannya ?
Pembentukan Desa Siaga berfungsi sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan, sebagai media komunikasi kesehatan, sebagai media komunikasi kesehatan, dan sebagai bentuk pembinaan tenaga kesehatan di desa.
Pembentukan Desa Siaga bertujuan memacu terwujudnya desa siaga sebagai prasyarat Desa sehat, Kecamatan Sehat, Kabupaten / Kota Sehat, Propinsi Sehat dan Indonesia Sehat.
Fasilitasi Desa Siaga
Inti dari fasilitasi Desa Siaga adalah Pemberdayaan. Karena itu, langkah pembinaan Desa Siaga dilakukan dengan menggerakkan segenap komponen yang ada dalam masyarakat agar secara mandiri dan berkesinambungan , mencegah dan mengatasi masalah kesehatan di desanya.
Gerakan masyarakat dibangun melalui serangkaian proses pembelajaran agar masyarakat mampu mengenali maslah kesehatannya dan mengenali potensi yang dimiliki guna mengatasinya.
Siapa Unsur-unsurnya ?
Unsur-unsur dalam masyarakat yang terlibat dalam pembentukan Desa Siaga antara lain :
1. Fasilitator Desa (Bidan di Desa)
2. Penanggungjawab kegiatan
3. Tenaga / Kader Siaga
4. Keluarga Siaga
5. Warga Siaga
6. Unsur-unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang bekerja dalam tim untuk mewujudkan dan memelihara kesinambungan Desa Siaga.
Bentuk Pembinaan
- Menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap tatanan dalam masyarakat
- Mengupayakan peran aktif masyarakat terutama dengan membina keaktifan kader dalam pembangunan kesehatan masyarakat desa
- Mengupayakan keterlibatan organisasi dan lembaga kemasyarakatan di desa untuk bekerjasama dalam pembangunan kesehatan.
- Mengoptimalkan fungsi PKD sebagai sarana pelayanan kesehatan sekaligus wadah bagi pembinaan dan pengembangan pembangunan kesehatan didesa.
- Mendorong terbentuknya forum atau mengoptimalkan fungsi forum yang telah ada bagi kelangsungan pembangunan kesehatan di desa.
- Mengoptimalkan pelaksanaan tugas bidan di desa
- Mendorong penggalian dan penggalangan sumber daya di desa untuk mewujudkan kepedulian dan kegotongroyongan terutama dalam hal :
-
- Pembiayaan kesehatan
- Kegawatdaruratan persalinan
- Kewaspadaan terhadap penyakit dan faktor resiko penyakit
- Kewaspadaan pangan dan gizi
8. Mengupayakan agar pembagunan lintas sektor di desa dapat berjalan sinergis dan selaras dengan Pembangunan kesehatan.
WASPADA DEMAM BERDARAH
Posted by: | Comments| Selama 2bulan terakhir Kasus Demam Berdarah Di Kabupaten Purworejo sudah mencatat sebanyak 43 kasus dan 1 meninggal yang tersebar di 12 Kecamatan. Kejadian tertinggi di kecamatan Purworejo sebanyak 16 kasus, disusul kecamatan Gebang 5 orang, Bayan 2 orang, 1 orang dari Ngombol (meninggal) dan lainnya tersebar di Kecamatan Kemiri, Pituruh, Banyuurip, Ngombol, Purwodadi, Grabag, Kaligesing, loano, dan Bruno.dan diperkirakan kasus ini masih akan terus bertambah dengan puncak kasus sekitar bulam maret-april. Dari hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) sebangian besar penderita sebelum sakit (18 kasus) habis bepergian ke kota – kota endemis DB yaitu dari Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta. Semarang dan diduga merupakan kasus import dari luar kota Purworejo, Pengaruh mobilitas penduduk yang tinggi merupakan salah satu pembawa dampak masuknya Demam Berdarah Di Purworejo, sehingga perlu diantisipasi agar tidak menyebar luas di wilayah Kab. Purworejo dimana Kab. Purworejo sangat berpotensi untuk penyebaran penyakit ini terutama didaerah perkotaan. Kecuali itu factor iklim juga sangat menentukan perkembangankasus DB. Penyakit Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dimana nyamuk tersebut berkembang biak ditempat-tempat air jernih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah baik di dalam rumah maupun luar rumah seperti bak mandi, tempayan, tempat penampungan air bersih, tempat buangan air kulkas, vas bunga. Dan diluar rumah: kaleng-kaleng bekas, ban bekas, dan masih banyak lagi tempat yang bias menampung air hujan. Berbagai upaya penanggulangan telah di lakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Di Kabupaten Purworejo Pencegahan penyakit DB di titik beratkan pada kegiatan PSN dengan membina masyarakat daerah rawan DB dan anak sekolah untuk melakukan 3 M+ yaitu : menguras, menutup, menimbun dan menyikat, karena kalau tidak disikat dikhawatirkan telor-telor aedes aegypti akan tetap menempel di dinding bak air. Kecuali itu juga dibentuk JUMANTIK (Juru Pemantau Jentik) sedangkan untuk fogging (pengasapan) dilakukan untuk penanggulangan kasus. Dan diharapkan masyarat akan tetap waspada dan mandiri tanpa ketergantungan lagi dengan kegiatan Foging. Karena Foging ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dengan nilai keberhasilannya sulit di ukur sedangkan apabila kita dengan memantau jentiknya akan lebih mudah karena tempat perindukan jelas dan langsung bisa di bersihkan. Dengan demikian kasus demam berdarah di kabupaten Purworejo akan dapat terkendali. Dwi Hartanto DINKES PURWOREJO |






