Mar
08

WASPADA DEMAM BERDARAH

By webmaster
Selama 2bulan terakhir Kasus Demam Berdarah Di Kabupaten Purworejo sudah mencatat sebanyak 43 kasus dan 1 meninggal yang tersebar di 12 Kecamatan. Kejadian tertinggi di kecamatan Purworejo sebanyak 16 kasus,  disusul kecamatan Gebang 5 orang, Bayan 2 orang, 1 orang dari  Ngombol (meninggal) dan lainnya tersebar di Kecamatan Kemiri, Pituruh, Banyuurip, Ngombol, Purwodadi, Grabag, Kaligesing, loano, dan Bruno.dan diperkirakan kasus ini masih akan terus bertambah dengan puncak kasus sekitar bulam maret-april.
Dari hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) sebangian besar penderita sebelum sakit (18 kasus) habis bepergian ke kota – kota endemis DB yaitu dari Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta. Semarang dan diduga merupakan kasus import dari luar kota Purworejo, Pengaruh mobilitas penduduk yang tinggi merupakan  salah satu pembawa dampak masuknya Demam Berdarah Di Purworejo, sehingga perlu diantisipasi agar tidak menyebar luas di wilayah Kab. Purworejo dimana Kab. Purworejo sangat berpotensi untuk penyebaran penyakit ini terutama didaerah perkotaan. Kecuali itu factor iklim juga sangat menentukan perkembangankasus DB.

Penyakit Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dimana nyamuk tersebut berkembang biak ditempat-tempat air jernih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah baik di dalam rumah maupun luar rumah seperti bak mandi, tempayan, tempat penampungan air bersih, tempat buangan air kulkas, vas bunga.  Dan diluar rumah: kaleng-kaleng bekas, ban bekas, dan masih banyak lagi tempat yang bias menampung air hujan.
Kelebihan dari nyamuk aedes aegypti adalah pada telurnya dimana bila dalam keadaan kering mampu bertahan hingga lebih dari 3 bulan sehingga apabila terkena air telur nya bias langsung menetas menjadi jentik, kepompong dan kemudian jadi nyamuk.

Berbagai upaya penanggulangan telah di lakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Di Kabupaten Purworejo Pencegahan penyakit DB di titik beratkan pada kegiatan PSN  dengan membina masyarakat  daerah rawan DB dan anak sekolah untuk melakukan 3 M+ yaitu : menguras, menutup, menimbun dan menyikat, karena kalau tidak disikat dikhawatirkan telor-telor aedes aegypti akan tetap menempel di dinding bak air. Kecuali itu juga dibentuk JUMANTIK (Juru Pemantau Jentik) sedangkan untuk  fogging (pengasapan) dilakukan untuk penanggulangan kasus. Dan diharapkan masyarat akan tetap waspada dan mandiri tanpa ketergantungan lagi dengan kegiatan Foging. Karena Foging ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dengan nilai keberhasilannya sulit di ukur sedangkan apabila kita dengan memantau jentiknya akan lebih mudah karena tempat perindukan jelas dan langsung bisa di bersihkan. Dengan demikian kasus demam berdarah di kabupaten Purworejo akan dapat terkendali.

Dwi Hartanto

DINKES PURWOREJO

Categories : Artikel

Leave a Comment

Alamat Redaksi :
Dwi Hartanto
Jln. May.Jend Sutoyo No 17 Purworejo
email : dtanto_id@yahoo.com