“CHIKUNGUNYA” JUGA MENYERANG PURWOREJO
By · Comments
Setelah Penyakit DBD beberapa pekan yang lalu menyerang Purworejo kini penyakit “Chikungunya” juga telah menyerang warga Purworejo. Walaupun tidak menimbulkan Kematian namun penyakit ini cukup membuat resah warga karena penyebarannya cukup cepat dengan gejala demam, ngilu/sakit pada persendian yang dapat menyebabkan sulit berjalan. Untuk itu kewaspadaan dan penangan cepat oleh petugas kesehatan bersama masyarakat sangat diperlukan. untuk lebih jelasnya tentang penyebaran penyakit dapat kita ikuti laporannya berikut ini.
yang penting WARGA TETAP WASPADA…….WASPADALAH……………………
SISTEM LAPORAN CEPAT (SLC)
By · CommentsSeiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, kebutuhan data yang bermutu, dan informasi yang cepat sudah menjadi kebutuhan baik publik maupun institusi. untuk mewujudkan kebutuhan data dibidang kesehatan Departemen Kesehatan RI bekerja sama dengan WHO telah mengembangkan model sistem laporan cepat menggunakan fasilitas SMS pada telepon seluler.
Sistem Laporan Cepat ini dikembangkan untuk pengumpulan data hasil deteksi dini, seperti data Gizi, kematian ibu, dan penyakit utama,serta data sewaktu yaitu data yang harus segera dilaporkan pada saat terjadi wabah,KLB, atau bencana, selain itu juga akan dikumpulkan data desa siaga khususnya untuk regrestrasi Poskesdes. Model ini akan di uji cobakan di 13 kabupaten/ Kota prop Jateng dan DIY. Dan apabila dalam hasil evaluasinya dipandang berhasil sistem ini dapat dikembangkan ke seluruh Indonesia. Model ini dikembangkan berdasarkan dari pengalaman Depkes yang bekerja sama dengan Dinkes kab. Purworejo saat melakukan monitoring pelayanan kesehatan pos kesehan keliling pada saat terjadi gempa di Jateng dan DIY pada pertengahan tahun 2006. Sehingga untuk software dikerjakan oleh Dinkes Kab. Purworejo.
Di Kabupaten Purworejo sendiri sistem pelaporan menggunakan SMS telah dikembangkan untuk pelaporan hasil kegiatan di luar gedung, KLB, serta Bencana dengan cara Petugas Puskesmas/PUSTU/Poskesdes cukup mengirimkan SMS dengan kode tertentu sehingga SMS yang diterima Server di dinas kesehatan kab. Purworejo dapat di konfersikan kedalam tabel tertentu.
Demikian pesan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo pada acara sosialisasi Desa Siaga di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo
Latar Belakang Kebijakan
Pembangunan kesehatan di Kabupaten Purworejo perlu terus dipacu keberhasilannya dengan terus mengupayakan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB). Sampai dengan tahun 2006 AKI = 126/1000 kh dan tahun 2005 AKB = 9,12/1000 kh, angka tersebut tergolong relatif tinggi, sementara pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 64,5/100.
Menyikapi kondisi tersebut pemerintah berupaya dengan menempuh kebijakan menempatkan bidan-bidan di desa. Sistem pelayanan kesehatan terus ditingkatkan. Hal ini diwujudkan dengan mendorong terbentuknya PKD (Poliklinik Kesehatan Desa) dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Masalah kesehatan terus berkembang, penyakit baru bermunculan dan perseberannya cenderung menjadi ancaman global seperti SARS, HIV-AIDS, dan Flu Burung. Sedangkan penyakit lainnya yang akut dan berpotensi menjadi Kejadian Luar biasa (KLB) seperti Demam Berdarah, Polio, dan Diare serta Gizi buruk pada balita masih menjadi ancaman.
Sementara itu masalah kesehatan masyarakat seperti TBC, Kusta dan penyakit infeksi lainnya belum sepenuhnya dapat diatasi. Kondisi ini diperberat oleh menurunnya status kesehatan akibat gizi buruk, khususnya pada kelompok rentan. Pada sisi lain, beberapa wilayah tertimpa bencana alam, kerugian yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tetapi juga menyisakan trauma dan masalah kesehatan.
Menyadari keterbatasan pemerintah baik dari segi upaya maupun sumberdaya, dipandang perlu untuk menumbuhkan sikap kepedulian dan gotong royong masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah melalui Desa Siaga.
Apa dan siapa Desa Siaga itu ?
4 strategi dalam mewujudkan visi masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, yaitu menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan bekualitas, meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayan kesehatan. “ Desa siaga merupakan salah satu sasaran dari tiga sasaran strategi pertama, dimana pada akhir tahun 2008, seluruh desa telah menjadi desa siaga “
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemandirian serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa / PKD / Poskesdes.
PKD (Polkesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. UKBM yang sudah dikenal luas oleh masyarakat yaiti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Warung Obat Desa, Kelompok Pemakai Air, Arisan Jamban Keluarga dan lain-lain.
Pusat Revitalisasi UKBM
Untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa, PKD (Poskesdes) memiliki kegiatan antara lain pengamatan epidemiologi sederhana terhadap penyakit terutama penyakit menular yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Faktor resikonya termasuk status gizi serta kesehatan ibu hamil yang beresiko, penanggulangan penyakit, terutama penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB serta faktor resikonya termasuk kurang gizi. Juga dikembangkan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, pelayanan medis dasar sesuai kompetensinya. Untuk kehidupan masyarakat sehari-hari, digerakkan promosi kesehatn untuk peningkatan keluarga sadar gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), penyehatan lingkungan dan lain lain.
“ Dengan demikian PKD (Poskesdes) diharapkan berperan sebagai Pusat pengembangan atau revitalisasi berbagai UKBM yang ada di masyarakat desa. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, Poskesdes harus didukung oleh sumber daya seperti tenaga kesehatan (minimal seorang bidan) dengan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2 orang kader. Selain itu juga harus disediakan sarana fisik berupa bangunan, perlengkapan dan peralatan kesehatan serta sarana komunikasi”.
Apa Fungsi dan Tujuannya ?
Pembentukan Desa Siaga berfungsi sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan, sebagai media komunikasi kesehatan, sebagai media komunikasi kesehatan, dan sebagai bentuk pembinaan tenaga kesehatan di desa.
Pembentukan Desa Siaga bertujuan memacu terwujudnya desa siaga sebagai prasyarat Desa sehat, Kecamatan Sehat, Kabupaten / Kota Sehat, Propinsi Sehat dan Indonesia Sehat.
Fasilitasi Desa Siaga
Inti dari fasilitasi Desa Siaga adalah Pemberdayaan. Karena itu, langkah pembinaan Desa Siaga dilakukan dengan menggerakkan segenap komponen yang ada dalam masyarakat agar secara mandiri dan berkesinambungan , mencegah dan mengatasi masalah kesehatan di desanya.
Gerakan masyarakat dibangun melalui serangkaian proses pembelajaran agar masyarakat mampu mengenali maslah kesehatannya dan mengenali potensi yang dimiliki guna mengatasinya.
Siapa Unsur-unsurnya ?
Unsur-unsur dalam masyarakat yang terlibat dalam pembentukan Desa Siaga antara lain :
1. Fasilitator Desa (Bidan di Desa)
2. Penanggungjawab kegiatan
3. Tenaga / Kader Siaga
4. Keluarga Siaga
5. Warga Siaga
6. Unsur-unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang bekerja dalam tim untuk mewujudkan dan memelihara kesinambungan Desa Siaga.
Bentuk Pembinaan
- Menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap tatanan dalam masyarakat
- Mengupayakan peran aktif masyarakat terutama dengan membina keaktifan kader dalam pembangunan kesehatan masyarakat desa
- Mengupayakan keterlibatan organisasi dan lembaga kemasyarakatan di desa untuk bekerjasama dalam pembangunan kesehatan.
- Mengoptimalkan fungsi PKD sebagai sarana pelayanan kesehatan sekaligus wadah bagi pembinaan dan pengembangan pembangunan kesehatan didesa.
- Mendorong terbentuknya forum atau mengoptimalkan fungsi forum yang telah ada bagi kelangsungan pembangunan kesehatan di desa.
- Mengoptimalkan pelaksanaan tugas bidan di desa
- Mendorong penggalian dan penggalangan sumber daya di desa untuk mewujudkan kepedulian dan kegotongroyongan terutama dalam hal :
-
- Pembiayaan kesehatan
- Kegawatdaruratan persalinan
- Kewaspadaan terhadap penyakit dan faktor resiko penyakit
- Kewaspadaan pangan dan gizi
8. Mengupayakan agar pembagunan lintas sektor di desa dapat berjalan sinergis dan selaras dengan Pembangunan kesehatan.
WASPADA DEMAM BERDARAH
By · Comments| Selama 2bulan terakhir Kasus Demam Berdarah Di Kabupaten Purworejo sudah mencatat sebanyak 43 kasus dan 1 meninggal yang tersebar di 12 Kecamatan. Kejadian tertinggi di kecamatan Purworejo sebanyak 16 kasus, disusul kecamatan Gebang 5 orang, Bayan 2 orang, 1 orang dari Ngombol (meninggal) dan lainnya tersebar di Kecamatan Kemiri, Pituruh, Banyuurip, Ngombol, Purwodadi, Grabag, Kaligesing, loano, dan Bruno.dan diperkirakan kasus ini masih akan terus bertambah dengan puncak kasus sekitar bulam maret-april. Dari hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) sebangian besar penderita sebelum sakit (18 kasus) habis bepergian ke kota – kota endemis DB yaitu dari Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta. Semarang dan diduga merupakan kasus import dari luar kota Purworejo, Pengaruh mobilitas penduduk yang tinggi merupakan salah satu pembawa dampak masuknya Demam Berdarah Di Purworejo, sehingga perlu diantisipasi agar tidak menyebar luas di wilayah Kab. Purworejo dimana Kab. Purworejo sangat berpotensi untuk penyebaran penyakit ini terutama didaerah perkotaan. Kecuali itu factor iklim juga sangat menentukan perkembangankasus DB. Penyakit Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dimana nyamuk tersebut berkembang biak ditempat-tempat air jernih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah baik di dalam rumah maupun luar rumah seperti bak mandi, tempayan, tempat penampungan air bersih, tempat buangan air kulkas, vas bunga. Dan diluar rumah: kaleng-kaleng bekas, ban bekas, dan masih banyak lagi tempat yang bias menampung air hujan. Berbagai upaya penanggulangan telah di lakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Di Kabupaten Purworejo Pencegahan penyakit DB di titik beratkan pada kegiatan PSN dengan membina masyarakat daerah rawan DB dan anak sekolah untuk melakukan 3 M+ yaitu : menguras, menutup, menimbun dan menyikat, karena kalau tidak disikat dikhawatirkan telor-telor aedes aegypti akan tetap menempel di dinding bak air. Kecuali itu juga dibentuk JUMANTIK (Juru Pemantau Jentik) sedangkan untuk fogging (pengasapan) dilakukan untuk penanggulangan kasus. Dan diharapkan masyarat akan tetap waspada dan mandiri tanpa ketergantungan lagi dengan kegiatan Foging. Karena Foging ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dengan nilai keberhasilannya sulit di ukur sedangkan apabila kita dengan memantau jentiknya akan lebih mudah karena tempat perindukan jelas dan langsung bisa di bersihkan. Dengan demikian kasus demam berdarah di kabupaten Purworejo akan dapat terkendali. Dwi Hartanto DINKES PURWOREJO |
STUDI BANDING DI DINKES KAB. PURWOREJO
By · Comments
Sebanyak 28 Orang dari Dinas Kesehatan dan BAPEDA kota Pagar Alam Propinsi Sumatera Selatan Melakukan Study Banding di Dinas Kesehatan Kab. Purworejo
Sebelumnya juga dari beberapa Propinsi dan Kabupaten Di Indonesia melakukan studi banding ke Dinkes kab. Purworejo. Diantaranya adalah :
- Propinsi Kalteng beserta Beberapa kabupatennya
- Pontianak Prop Kal Bar
- Kabupaten Bintan Kepulauan Riau
- Kabupaten Maros Sulawesi Selatan
- Kabupaten Bone Bolango Prop. Gorontalo
Mereka rata-rata berkesan dan sangat tertarik dengan Sistem Informasi yang diterapkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo dan ingin mengaplikasikan sistem tersebut di daerah masing-masing.
Kabupaten Purworejo selama 5 (lima) tahun terakhir telah mempelopori untuk mengembangkan sistem informasi kesehatan yang ada di Indonesia, dan merupakan salah satu kabupaten rujukan dalam pengembangan teknologi informasi kesehatan
Sistem informasi ini dibangun secara bertahap dan dengan teknologi yang sederhana, sehingga mudah dipahami dan diaplikasikan serta berbasis pada kegiatan Puskesmas.
Pada saat ini Puskesmas Kabupaten Purworejo telah mempunyai struktur teknologi informasi yang terintegrasi. Komputer dan perangkatnya telah digunakan untuk proses pelayanan dan administrasi yang terintegrasi secara on-line dengan memanfaatkan teknologi nirkabel (wireless) yang saat ini telah berkembang pesat. Sistem Informasi Kesehatan Dikabupaten Merupakan aplikasi perangkat lunak berbasis web yang dibangun dengan menggunakan Active Server Page (ASP) dengan data base MY SQL §Perangkat lunak ini dapat dioperasikan pada sistem operasi MS Windows 95, 98, 2000 sampai versi terakhir Adapun aplikasi yang telah dikembangkan adalah :
- SIMPUSK (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) untuk mendukung manajemen klien, (Kegiatan dalam gedung).
- SPTP (Sistem Pelaporan Terpadu Puskesmas) untuk mendukung manajemen unit kesehatan, Kegiatan luar gedung)
- SIMKA (Sistem Informasi manajemen Kepegawaian)
- GIS (Geografis Information sistem)
- SIMO (Sistem Manajemen Obat).
- PIN (Pekan Iminisasi Nasional)
- SIM-KLB (Sistem Informasi Manajemen Kejadian Luar Biasa berbasis SMS)
Aplikasi tersebut beroperasi saling terintegrasi yang terkoneksi dengan jaringan W-LAN secara on-line antar puskesmas, Instalasi Farmasi dan DKKsehingga data yang di hasilkan tidak saling duplikasi yang dikenal dengan Manajemen data satu Pintu.Tujuan umum pengembangan tersebut, adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat umum dengan pelayanan yang prima dan biaya yang terjangkau. Pelayanan prima tersebut dapat berupa cepatnya pelayanan, akuratnya tindakan yang diterima, mudahnya mendapatkan informasi, dan kemudahan dan kesederhanaan proses-proses administrasi. Selain itu, pihak manajemen Puskesmas bisa mengendalikan dan mengaudit biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pelayanan terhadap pasien. Beberapa item barang, misal obat, juga harus dikontrol pengeluaran dan stoknya di Puskesmas.
Perkembangan terakhir di Kabupaten Purworejo telah mendapatkan bantuan 1 (satu) set Server dari PUSDATIN sehingga dapat menyempurnakan sistem yang ada dan juga akan digunakan sebagai bank data kesehatan di Kabupaten Purworejo. Dimana Data dan Informasi yang di kembangkan dapat di akses oelh seluruh Puskesmas melalui jaringan INTRANET.
Jangan Takut Makan Bakso di Purworejo
By · Comments“Tak perlu takut makan bakso di Purworejo asal penjual bakso menempel surat pernyataan dgn Dinkes Purworejo.”
Maraknya berita tentang bahaya penyalahgunaan formalin dari berbagai media ternyata dapat mempengaruhi masyarakat menjadi takut untuk membeli makanan secara sembarangan terutama makanan yang mempunyai potensi untuk diawetkan dengan bahan berbaya tersebut, seperti bakso, mie, daging, ikan asin dan lain-lain. Bahkan dampaknya tingkat komsumsi masyarakat menurun drastis /tingkat permintaan/penjualan dan produksi hingga 50%, bahkan ada produsen yang mengalami kebangkrutan. Padahal tidak semua pengrajin, Usaha Kecil Menengah maupun penjual menggunakan formalin. Akibat yang lebih luas dapat memgganggu perekonomian nasional.
Untuk merespon dan mengatasi serta upaya pemulihan terhadap kasus penyalahgunaan formalin dan bahan berbahaya lainnya Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan dinas terkait pada Minggu ke dua bulan Januari 2006 segera terjun ke lapangan mengambil sample makanan (Mie Ayam, Bakso, Mie Basah, Tahu, ikan asin dan lain-lain) yang disinyalir mengandung formalin dan sample makan tersebut langsung dikirim ke BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Propinsi Jawa Tengah di Semarang. Adapun hasil dari pemeriksaan sample adalah sebagai berikut :
HASIL PEMERIKSAAAN SAMPLE MAKANAN YANG DIKIRIM
OLEH DINAS KESEHATAN KABUPATEN PURWOREJO
BULAN JANUARI 2005
| NO | JENIS SAMPLE | JML SAMPLE |
HASIL PEMERIKSAAN |
KET |
| 1. 2. 3. 4. 5. |
BAKSO Mie Basah Tahu Ikan Tengiri Ikan Asin Blerehan |
3 3 5 1 1 |
NEGATIF NEGATIF NEGATIF NEGATIF POSITIP FORMALIN |
Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Tidak Memenuhi syarat |
Dari hasil pemeriksaan tersebut ada satu sample yang positip mengandung formalin yaitu ikan asin blerehan. Dalam pelacakan asal ikan asin tersebut DKK Purworejo mengalami kesulitan karena produk tersebut tidak bermerek, sehingga kesulitan alam melacak sipa dan dari mana ikan asin tersebut diproduksi. Diduga ikan asin tersebut didrop (dikirim) dari luar kota karena di kabupaten purworejo sendiri belum ada pengusaha yang membuat ikan asin. Memang banyak sekali produk-produk yang tak bermerek (tidak memiliki ijin) berada di pasaran dan pemerintah pun sulit untuk mencegah peredaran produk-produk tersebut. Untuk itu masyarakat di himbau untuk lebih hati-hati dalam memilih atau membeli makanan terutama makanan yang berpeluang untuk diawetkan dengan bahan berbahaya terutama formalin.
Kecuali itu untuk melindungi konsumen dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk makanan yang mempunyai peluang untuk diawetkan Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo mengadakan Pertemuan Sosialisi Bahaya Formalin kepada pedagang, pengrajin dan Usaha Kecil Menengah se Kabupaten Purworejo pada tanggal 15 Februari 2006. hasil dari pada pertemuan tersebut mereka sepakat untuk tidak menggunakan bahan pengawet dalam makanan yang di produksinya dengan membuat surat pernyataan tidak akan menggunakan formalin ditandatangani diatas materei dan mengetahui Dinas kesehatan Kabupaten Purworejo. Surat pernyataan tersebut nantinya akan di tempel di warung atau tempat penjualan produk tersebut. Sebagai konsekwensinya Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo akan selalu mengawasi produk produk tersebut agar kualitas tetap terjaga dan masyarakat Purworejo tidak khawatir lagi dalam mengkonsumsi , terutama bagi penggemar bakso dan mie ayam dikabupaten Purworejo. Untuk itu bagi pedagang yang tidak dapat hadir dalam pertemuna tersebut dapat segera mengambil formulir surat pernyataan ke Dinas Kesehatan kab. Purworejo demi membangun kepercayaan masyarakat dan kemajuan produksi pengusaha/pedagang itu sendiri.





